Thursday, July 14, 2011

Bulan Juni, Bulan Jakarta

Pemirsa, sehubungan dengan ulang tahun kota Jakarta yang ke-484, bulan lalu sebetulnya saya bersama rekan saya Tito (ehm..promosi terselubung, to. You owe me for this. hehe..) sempet tamasya ke Taman Ismail Marzuki. Sebenernya di bulan-bulan lain biasanya kami juga menjadi pengunjung rutin tempat ini sih, entah itu untuk nonton film gratisan di Kineforum atau sekedar liat-liat event lain (yang diharapkan juga gratisan) yang sedang digelar pada akhir pekan. Tapi entah kenapa setiap saya mau mencoba posting tentang cerita ini, selalu aja gak jadi. Rada gak enak, gitu. Gak enak kenapa? Entahlah..  *(sok) misterius.
Yasudah, intinya sekarang kan saya sudah mencoba menuliskannya. Dan kalau pembaca yang budiman sekalian bisa membaca post ini sekarang, ya berarti perasaan gak enak itu sudah berhasil saya singkirkan. Gitu kan?

Oke, seperti yang saya bilang tadi, berhubung ini bulan Juni, acara tamasya ke TIM kali ini rada spesial. Kenapa sih dengan bulan Juni? Pertama, ya itu tadi, bulan Juni ini Jakarta lagi punya hajat. Ulang tahun, ceritanya. Jadi semua event di bulan ini memang dibuat rada "gebyar" gitu.. Kedua, nah ini berhubungan dengan event yang saya dan tito hadiri: bulan Juni itu bulan kelahirannya Soekarno. Sepanjang yang bisa saya ingat, setiap tahun selalu saja ada event yang berhubungan dengan Soekarno di bulan kelahirannya ini. Nah, kali ini TIM menggelar Pameran Foto Bung Karno di Gedung Galeri Cipta II.

Bung Karno tuh emang ganteng yaa.. ^_^

Namanya juga pameran foto, di dalamnya sudah tentu banyak dipajang foto-foto Bung Karno mulai dari masa kecilnya, waktu dia bersekolah, ketika terjadi moment-moment penting kenegaraan, ketika beliau ada di pengasingan, termasuk juga ketika ada kunjungan kenegaraan dari pemimpin-pemimpin besar dunia, dan moment-moment lainnya. Banyak juga foto yang menonjolkan sisi humanis Bung Karno yang menggambarkan betapa cintanya beliau pada rakyat dan tanah airnya. Fotonya bagus-bagus, sebagian belum pernah dipublish untuk umum. Ada juga foto-foto lucu, seperti waktu Bung Karno ngerokok bareng PM India-Jawaharlal Nehru, atau ketika beliau tukeran topi sama Fidel Castro. Jadi si Castro pake kopiah gitu, trus bung Karnonya ketawa lebar. hehhee...lucu!
Selain pameran foto, di sini juga ada pemutaran film dokumenter, ada yang di TV ada juga yang di ruang gelap pake proyektor. Ada jualan buku dan cenderamata. Trus ada juga patung-patung Soekarno dan Hatta yang jadi objek favoritnya pengunjung untuk berfoto. Sayangnya, berhubung waktu itu saya cuma mengandalkan kamera hape yang tidak seberapa itu, ditambah pula kondisinya sedang lowbat, beberapa foto akhirnya gak kesimpan di memori. Aah.. sayang sekali sodara-sodara.

Nah, sebenarnya kan yaa... saya sama Tito itu dari awal niat ke TIM pengen nonton Pementasan Drama Kwik Tan Kiam.  Tapi pementasan ini baru ada jam 7.30 malam. Sedangkan muter-muterin Galeri Cipta II itu udah beres dari jam 5 sore. Akhirnya kami memutuskan lanjut muterin areal TIM lagi untuk ngeliat ada event apa lagi yang sedang digelar. Tenang.. di TIM mah kemungkinan mati gaya itu sangat kecil bagi kami. Dan selagi masih ada abang-abang yang jualan siomay di sana, sudah, aman dunia! Hehehe.. 

Tito, pura-puranya sedang mengamati :P


Dan ternyata sore itu sedang ada pameran lukisan juga lhoo.. 4 orang pelukis: Semut Prasidha, Indra Syafrin, Iwan Aswan, dan Syahnagra Ismail mengadakan pameran bersama dengan tema “Perenungan untuk Bangsa”di Galeri Cipta III, mulai tanggal 21–30 Juni 2011. Wuihh..rada berat ya temanya. Tapi lukisannya menurut saya masih bisa dinikmati kok. Ada beberapa lukisan yang saya suka sekali ngeliatnya, terutama hasil karyanya Syahnagra Ismail. Perpaduan warnanya bagus, dan ngeliatnya itu rasanya adem, gitu.. Haaahh..bingung ah jelasinnya gimana, saya mah nggak bakat jadi pengamat dan kritikus seni!
ini lho lukisan Syahnagra Ismail yg jadi favorit saya

Ya sudah, beres liat lukisan, lanjut dengan sholat magrib, cemal-cemil dan ngobrol panjang di trotoar, acara hari itu kemudian berlanjut dengan sajian utama, yaitu Pementasan Drama Kwik Tan Kiam. Pementasan ini menceritakan asal mula nama daerah Kwitang di Jakarta. Jadi menurut kisahnya, konon ada seorang saudagar Cina yang jadi tuan tanah di wilayah itu. Orangnya baik, suka menolong rakyat miskin, tapi anaknya justru kebalikannya, suka mabok; mabok judi dan mabok minuman, ditambah mabok janda. Ya kira-kira begitulah dasar ceritanya.

Saya pikir, kisah ini akan dipentasin secara serius, di ruangan teater tertutup gitu. Ternyata dugaan saya salah! SALAH BESAR!  You know what, ini ternyata dipentaskan dengan format komedi betawi secara live, di pelataran parkir TIM itu, jadi siapapun yang lalu lalang bebas nonton, mau duduk di kursi, ngemper di depan panggung atau sambil pesen bakso sama abang-abang yang lagi mangkal. Terserah mana yang asiknya aja. Dan tau kan komedi betawi yang pemainnya suka menyapa “eh penontoooonnnn…” trus ada sisipan pantun di sana-sini, diiringi live music gambang kromong pleus celetukan-celetukan nyablak dari pemainnya?? Nah iya, begitu! Pementasan ini PERSIS BEGITU! Seru kan?

Eh penontoooonnn....

salah satu opening act-nya: pencak silat betawi.
pake golok beneran lho!

Tapiiiii...berhubung pementasannya molor banget dari waktu yang dijadwalkan (harusnya jam 7.30, itu jam 8.30 baru opening, nyanyi-nyanyi dan pencak silat betawi) kami, ehm..tepatnya saya, gak bisa nonton sampe abis. Soalnya pulangnya maleeemmmm dan sendiriiaann.. aku kan tatuuutt...ntar kalo diculik gimana?? (jijay. hehe). Jadi ya sudah, akhirnya kami cuma bisa bertahan sampe jam 10 kurang. Padahal itu ceritanya baru masuk babak ke 2. Ah..sebel deh, gak bisa nonton sampe abis. Tapi kalo sampe abis juga, beeeuuh..pulang pagi itumah namanya! Nanti aku dimarahin mamaa..  huhuhu. Tapi walopun cuma nonton sampe babak ke-2, udah lumayan banget lhoo.. udah sempet cekikikan, udah sempet goyang-goyang badan ikutin musiknya, udah ikut berbalas pantun, maen tebak-tebakan. Seru lah pokoknya!

Jadi kesimpulannya, hari itu beneran berasa lagi menikmati Jakarta di bulan Juni. Meriah, menyenangkan. Lumayan banget buat refreshing, dan yang paling berasa ke saya sih, bikin jadi banyak belajar soal Indonesia (du'ile..berat amat neng, pesan moralnya). Anyway...Selamat ulang tahun ya, kota Jakarta! Tahun depan ada event apa lagi ya kira-kira....??

Sunday, June 26, 2011

Book review: Jakarta tanpa mall

Hey kamu-kamu yang ada di Jakarta, pernah nggak jalan-jalan sama temen atau keluarga tapi bingung mau kemana? Mengeluh bahwa di Jakarta ini udah kurang tempat wisata dan ujung-ujungnya malah end up keliling mall. Pernah? Pernah?? Toss! Hahaha..
Kalau begitu, berarti kamu perlu baca buku yang satu ini:


Oleh Ade MulyaniWieke Dwiharti
Yes, ini adalah buku panduan lengkap tentang objek-objek wisata yang ada di Jakarta. Mulai dari museum, taman-taman kota, wisata alam, objek-objek bersejarah, pasar, flora dan fauna sampai objek khusus bagi penyalur hobi-hobi tertentu. Ada pasar burung, pasar batu perhiasan, pasar barang antik, pasar kembang, dan banyak lagi. Sebetulnya waktu saya ke toko buku beberapa hari yang lalu, saya masih nyari buku 47 Museum yang ada di Jakarta, yang begini nih penampakannya:


dikarang oleh Edi Dimyati
Tapi bukunya pak Edi Dimyati ini sekarang agak susah ditemui. Eh saya malah gak sengaja ketemu sama buku yang tadi. Harganya memang mahal sih, Rp 98.000. Saya sempet mikir-mikir juga mau belinya. Tapi begitu liat sampel yang sudah kebuka plastiknya, saya langsung jatuh cinta.. ^__^

Buku ini lengkap banget. Yes, LENGKAP! dengan 280 halaman yang tipis (seperti halaman majalah intisari) isinya bisa dibilang benar-benar padat bergizi. Ada sekitar 60 lokasi menarik yang dibahas di dalamnya. Bukan cuma menjelaskan masalah itu tempat wisata macam apa, tapi dilengkapi juga dengan sejarahnya, fakta-fakta tersembunyinya, juga dilengkapi dengan informasi pakaian macam apa yang perlu kita pakai ketika berkunjung, harga tiket masuknya, jadwal dan jam buka, fasilitas yang tersedia, tempat untuk cari makan di sekitarnya, peta lokasi menuju ke sana, nomor kontak untuk reservasi, dan tentu saja foto-fotonya. Fotonya banyak, dan halamannya berwarna semua! Hohoho..saya suka!  Oh iya, bahkan ada juga tips yang diberikan untuk belanja dan tawar-menawar harga lho! hehehe.. Keren kan?

Buku ini cocok banget dibaca sama orang tua yang bingung mau ngajak anakanya ke mana lagi selain mol dan ancol. Cocok juga buat kamu-kamu yang suka ngebolang keliling kota. Seriously, kamu akan tersadar bahwa banyak lho tempat menarik di Jakarta! Dan harga 98.000 nya beneran worth-it.

Saran saya, buku ini jangan sekali dibaca langsung habis. Tapi baca satu-satu tentang objek tertentu, bahkan jadikan buku panduan ketika kamu jalan-jalan. Bikin check-list tempat-tempat mana aja yang mau kunjungi. Bawa buku ini kemana-mana, taro di tas, atau dashboard mobil, kali aja lagi iseng jalan sama temen trus bingung mau kemana lagi. Hehehe.. Bukunya ringan kok, handy, informative but suprisingly enjoyable!

Baiklaah...selamat membaca dan selamat keliling Jakarta yaa.. dan tolong, usulkan saya sebagai putri pariwisata Jakarta ke bang kumis Foke itu. hehehe...
*kidding ah!


gambar dipinjem dari sini dan sini



Tidung, finally..

Hahaha.. kenapa judul postnya begitu, coba? Ya karena dari jaman hong saya udah kepengen banget bisa trip ke Pulau Tidung tapi baru bisa kesampean ya sekarang ini. Minggu kemaren tepatnya. Menyempatkan diri untuk escape dari kesibukan barang sebentar, yaah..lumayan banget lah buat pekerja kere macam saya ini..Hehe. Buat yang bingung Pulau Tidung itu di sebelah mana, (yes, ini beneran, beberapa temen saya masih nggak tau di mana letaknya) Pulau Tidung itu adalah salah satu pulau di kompleks Kepulauan Seribu. Jangan bilang gak tau Kepulauan Seribu itu di mana?!! Oh..okay...ternyata masih ada yang nunduk malu-malu di belakang sana. Baiklah anak muda... kita lihat saja di mari: 


Nah, itu posisinya di atas Jakarta. Gak jauh kan?
Jadi berhubung ini judulnya adalah liburan nyempil di antara hari kerja, jadi saya dan tim hore cuma punya waktu 2 hari untuk menikmati Pulau Tidung dan sekitarnya. Setelah janjian di grogol pada pagi buta, perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot B01 warna merah jurusan ke Muara Angke. Di pom bensin angke janjian dengan bapak-bapak agennya dan jam setengah 8 baru berangkat (gak pagi-pagi amat ternyata) lalu meluncur selama 2 jam dengan kapal motor ke Pulau Tidung besar. 
Berangkat berlima bersama tim hore termasuk si mamang yang motoin (gak keliatan)

Gerbang utama pulau tidung
Kapal sudah merapat di dermaga Pulau Tidung jam 11 siang. Sampe sono agendanya adalah masuk ke penginapan, beberesan dulu, makan siang, lalu snorkling sampe sunset menjelang. Do u notice that? snorklingnya abis makan siang. Yes, jam 1 siang tepatnya. Hahaha... kalo saya adalah steak, maka ini judulnya adalah well done! 


Ini fotonya diambil jam 2 siang, sodara-sodara! 
Lihat itu tangan saya, JAM 2!

Sunset yang malu-malu

Rute snorkling nya adalah mengitari Pulau Tidung Besar, Tidung Kecil dan Pulau Payung. Tapi sayangnya kenikmatan snorkling ini agak terganggu dengan sampah yang mengotori air laut. ah..sebel! Dan sayangnya juga, sunset sore itu kurang sukses. Mataharinya tenggelam di balik awan kelabu yang sembilu (tsaaah...) Jadi ya sudah, acara dilanjutkan dengan sesi foto-foto di dermaga lalu pulang dan bebersihan di penginapan. Malamnya, menurut rundown acara sih akan ada barbeque gitu. Wah..kebayang dong akan seseruan bakar-bakaran seafood di tepi pantai. Jam 8 teng, mas-mas guidenya mengetuk pintu dan nganterin ke area piknik deket pantai. Sampai di sana kami malah dipersilahkan duduk di tikar dengan hidangan yang sudah lengkap, termasuk cumi dan ikan yang sudah cantik terpanggang. Hahahaa..jadi barbeque nya di mana coba??? Tapi ya sudahlah ya..dihidangin makan begitu ya kita nikmati saja. 

Makan malam pinggir pantai
Abis makan, dasar ini manusia uler semua, bukannya ngapa-ngapain eh malah langsung rebahan di garis pantai dan memandang bintang. Biasa lah..orang Jakarta kan gak bisa nemu bintang kalo malem, udah polusi cahaya di mana-mana. Jadi begitu liat langit bersih penuh bintang begitu, keliatan deh kampungannya. hhihihi.. Bulannya juga malam itu bulat tembem oranye gitu, sisa sisa gerhana kemarin malamnya mungkin yaa.. Bagus deh!

Tapi berhubung hari itu capek banget, jadi agenda malam romantisnya gak bisa lama-lama. Jam 9an udah pada balik ke penginapan dan langsung berbagi wilayah jajahan. Dan berhubung besok pagi agendanya adalah sepedahan di tepi pantai demi mengejar sunrise, maka acara rumpi malamnya secara resmi dibubarkan pada jam 11. Hehee..

Tapi begitu bagun besok subuhnya...ya ampuuun..itu badan kaya abis dilindes tronton deh! Dan akhirnya berdasarkan musyawarah mufakat, kayanya setelah solat subuh, acaranya dilanjutkan dengan tidur aja. Sudahlah..mungkin mataharinya juga nongol dengan malu-malu seperti ketika sunset kemaren. *positif thinking. hehehe... Dan mas-mas guidenya juga ternyata kesiangan. Baru bangun jam 7an gitu. Hahaha..ini satu tim kok gak ada yang beres!

Alhasil baru keluar penginapan jam 7 pagi, tanpa mandi tentu saja. Dengan sepeda pinjaman, pagi itu dihabiskan untuk gowes keliling pulau dan foto-foto di jembatan cinta. Anyway, saya gak ngerti kenapa ini dinamakan jembatan cinta. Buat saya sih ini gak ada romantis-romantisnya. Apa karena saya ke sana gak bawa pacar? *ehkokcurcol :D


Matahari pagi, waktunya sholat dhuha :D


me with the coral under


harusnya di sini ada yang di gandeng gitu ya! hihi


Sesi foto-foto dan gowes keliling pulau beres jam 10.30. Berhubung menurut agenda jam 11 udah harus langsung caw ke dermaga lagi, maka begitu sampe penginapan kita semua langsung hompimpa untuk giliran mandi, beberesan dan bersiap pulang.


Harusnya sih yaa..kapalnya itu berangkat jam 11 dari dermaga tidung. Tapi eh tapi, baru jalan jam setengah 1 siang dengan matahari yang Masyaolloooh mentereng abis. Mana muatan kapalnya penuh banget. Dan kami gak makan siang pula, cuma nyiapin cemilan seadanya. Alhasil, kembali ke muara angke dengan kondisi laper, capek, keringetan dan bau amis tentu saja. Tapi fun looh...hohoho.. 


Anyway, budget yang habis buat paket liburan 2 hari 1 malam ini cuma RP 270.000 saja. Itu sudah termasuk ongkos kapal Angke-Tidung-Angke, makan 3x, penginapan ber-AC, sewa kapal buat snorkling, sewa alat snorkling, dan sepeda. Murah kan??  Jadi liburan ke Kep. Seribu ini sangat dianjurkan bagi kamu-kamu yang waktu liburnya mefet dan kondisi keuangan yang gak terlalu makmur. Pleus, jarak tempuhnya juga nggak terlalu jauh dari Jakarta.


Oh iya, berhubung bulan Juni ini adalah bulan liburan, (konon katanya sih begitu) maka agenda saya buat senang-senang gak cuma sampe di sini aja. Tunggu post selanjutnya yaa...
Akan ada cerita liburan dalam kota yang juga gak kalah ajib pokoknya! 
See ya!