Sunday, October 17, 2010

phuket: episode 2

Jam 11 malam, kontingen Malaysia mengetuk pintu kamar saya. Setelah peluk peluk dan cupika-cupiki bentar (haish..), kami (ngemil sambil) musyawaroh untuk rencana besok paginya. Mau phi-phi tour dulu atau city tour dulu? Hmmm... Setelah bolak balik brosur dan itung-itung uang, kesimpulan yang didapat adalah besok subuh kita akan hunting paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent di sekitar hotel. Cari yang paling murah, cari yang paling memungkinkan. Sip!

 

pagi di Kalim Bay

Dan yang saya bilang besok subuh adalah bener-bener subuh! Hahahaha..
Nggak ding, jam 7an lah..saya, beby dan alip udah keluar hotel dengan mata yang khas mongoloid sekali (segaris!).  Sambil foto-foto (teteuup walopun mata sepet) dan jalan-jalan menikmati udara pagi tepi pantai, kami menyambangi beberapa travel agent yang baru buka. Beneran baru buka lho! Orangnya juga baru bangun tidur (dengan terpaksa dibangunin karena kedatangan kami. hehee..) Si empu dari travel agent yang kami datangi bernama Nuchy, matanya segaris (bangun tidur), pipi masih cap bantal, (sepertinya) wanita dengan orientasi seksual agak diragukan, dan kesulitan (saya rasa memang gak bisa) melafalkan huruf S dan P. Hahaha... Tapi walau bagaimanapun keadaan mata kami waktu itu, transaksi tetap berlangsung. Tawar menawar harga, dengan tentunya miskomunikasi di sana-sini, didapatlah paket untuk city tour untuk hari itu dan phi-phi tour untuk esok harinya.

tawar menawar yang penuh miskomunikasi. hahaha..

Rinciannya begini:
Day 1
Keliling kota naik mobilnya Nuchy dijemput di pintu hotel jam 12 siang, mengunjungi 6 objek wisata yang kami pilih suka-suka (no, kami gak pilih paket berfoto bersama monyet atau jalan-jalan sambil menunggang gajah. Begituan sih di Indonesia juga banyak!), plus belanja souvenir segala, totalnya hanya 1000 baht untuk bertiga. Sama dengan 100 rebu doang per orang! udah gak usah bayar bensin dan tol lagi (gak lewat tol juga sih). Murah kan?

Lalu berhubung saya dan alip punya hasrat membara untuk nyobain bungy jumping, maka kami merogoh kantong lagi (kali ini agak dalam) dan membayar 1600 baht per orang. Ini paket yang murahnya. Cuma untuk loncat dan dapet sertifikat. Kalo paket kumplitnya, seharga 2800 baht, dapet topi, kaos, foto, video, dan sertifikat. Ah sudahlah, yang murah aja. Yang penting hasrat saya untuk bungy sudah terbayar! hahahaha..

Day 2:
Paket Phi-phi Tour yang akan menyambangi 8 pulau, di 3 tempat diantaranya bisa jemur-jemur atau snorkeling, plus makan siang. Transportasi hotel ke dermaga naik minibus, dijemput jam 8 pagi untuk ke dermaga. Dari dermaga naik speedboat ukuran sedang (kapasistas 30-35 orang) mengelilingi 8 pulau itu, dan dikembalikan ke hotel sore harinya. Total 1000 baht (300 ribu rupiah) saja per orang. Ini sudah termasuk makan siang, life jacket dan snorkeling mask. Mau pake fin, nambah lagi 100 baht. Mau dapet foto di depan boatnya (halah, penting) nambah lagi bayarannya. Huh!

Setelah bayar bayar dan janjian, kami bertiga kembali ke hotel, menikmati sarapan lalu Beby dan Alip memutuskan untuk berenang. Saya? Ah sudahlah, kalo saya nyemplung juga, kolam yang luasnya cuma 3 jengkal ini pasti langsung penuh. Hahaha..


Sarapan di lobby hotel


Jam 11 kami udah siap-siap, dan jam 12 teng si Nuchy dan camry-nya sudah parkir di depan hotel. Jadi baiklah.. Perjalanan hari itu dimulai!

Dan yang menjadi perhentian pertama adalah...tempat Bungy Jumping! Hahahhaa..saya dan Alip tiba-tiba jadi deg-degan. Kenapa harus kesini duluan? Kenapa gak tempat lain dulu aja? Belanja dulu kek..makan dulu kek.. Hahaha.. efek parno nih! Si Alip semakin deg-dengan karena begitu tiba di sana gak ada pengunjung lain, dan menurut aturan, yang badannya lebih berat akan loncat lebih dulu. Which means: ALIP ADALAH KORBAN PERTAMA! hahahhaa...



kontrak mati. ini bunuh diri, jangan harap uang kembali


Setelah saya dan Alip menandatangani kontrak mati, si Alip mulai diiket-iket dan naik ke katrol untuk sampai pada titik ketinggian 50 meter. Saya menyaksikan dari bawah. Lamaaaa banget persiapannya, rupanya Alip berusaha setengah mati mengumpulkan keberanian yang berceceran entah kemana. Bahkan katanya dia sudah berniat mundur aja. Tapi bagaimanapun uang gak bisa kembali. Jadilah si Alip minta didorong sama instrukturnya. Lalu hanya dalam hitungan detik Alip jatuh, teriak sejadi-jadinya, dan mendarat dengan kaki lemas dan nyawa setengah.

Saya? PUCAT.


persiapan sebelum naik.. ah, itu senyum palsu! hahaha..

Ketika giliran saya yang naik, saya deg-degan abis...Sumpah! Setelah ditimbang, ditandai dengan angka di tangan, lalu kaki dililit dengan kuat, saya mulai dikatrol sampai ke atas. Sedikit demi sedikit saya mulai mencapai titik 50 meter di atas tanah. Pemandangan dari atas baguuusss banget. Hijau asri, banyak pepohonan, rumput seperti di lapangan golf, dan di bawah ada laguna kecil. Angin yang berhembus siang itu memang agak kencang tapi segar dan udaranya bersih. Saya menghirup udara dalam-dalam dan ternyata efeknya lumayan untuk menenangkan.

Entah karena dibebat terlalu kencang atau karena gugup yang berlebihan, kaki saya mulai mati rasa. Ketika saya harus menapakkan kaki di tepi papan tolakan, rasanya saya tidak menjejak. Anehnya, melihat dan merentangkan  tangan lebar-lebar dari ketinggian seperti itu saya merasa tenang. Satu satunya yang saya khawatirkan waktu itu hanya angin yang hembusannya terlalu kencang, jadi saya seperti terdorong dari depan dan agak limbung. Tapi jantung saya sudah jauh lebih tenang. Maka dengan mata terpejam dan penuh kedamaian, saya menjatuhkan diri perlahan lahan...


ooh.. I love this moment!


Rasanya?

Hmm..5 detik pertama saya masih merasakan nikmatnya melayang-layang. Angin yang menyentuh wajah, dan tangan yang seolah-olah merentangkan sayap lebar-lebar. Ah, gini ya rasanya jadi burung? Enak juga ternyata..Saya tersenyum.. Tapi ngomong-ngomong, kok ini talinya gak mentok-mentok ya? 10 detik, 15 detik..kok lama banget?? Saya mulai deg-degan lagi. Baru deh mulai teriak! Hahaha..

Fase pusing baru terjadi ketika ujung tali sudah mentok dan saya terpental-pental ke segala arah. Saya mencoba membuka mata tapi justru semakin pusing melihat segalanya serba terbalik. Fase mental-mental ini rasanya lama banget. Saya sudah terlempar kesana kemari, suara sudah sampe serak tapi gak berhenti juga. Sekitar 1,5 menit terombang-ambing baru deh saya ditarik untuk mendarat. Rasanya? Pusing! Hahaha.. Tapi asik. Sumpah..Asik banget..!!


Setelah mendarat dan dilepaskan segala tali temali yang membebat kaki, dengan berjalan sempoyongan, saya kembali ke base camp dan mengambil sertifikat. Ahooyyy.. 50 meter sudah saya taklukkan! Maka marilah berfoto dengan senyum yang lebar.. :D


Beres bungy jumping, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan. Ada beberapa tempat yang dikunjungi secara marathon. Artinya disana cuma singgah 15 menit, foto-foto bentar lalu lanjut menghampiri tempat lain, tapi ada juga yang dikelilingi sampe khatam.

Tapi, nggg... kayanya kepanjangan deh kalo semuanya diceritain di sini. Masih ada 7 spot lagi soalnya. Tunggu postingan berikutnya aja yaaa kalo gitu... huehehehee..
*semoga gak ditimpuk pembaca karena updatenya lama benerrr. Amiin..*



Jangan kemana-mana ya, saya akan usahakan kembali setelah pesan-pesan berikut ini

 

Tuesday, October 05, 2010

Phuket: episode 1

Akhirnyaaa...saya punya kesempatan untuk jalan-jalan lagi! Ihiiiyy..


Setelah terakhir kali nengokin singa yang nyemburin air  tahun lalu itu, saya memang belum pernah piknik lagi. Maka ketika ada tawaran tiket murah dari maskapai berwarna merah, ditambah lagi dengan bujuk rayu si partner akademik ini, maka dengan berbangga hati, saya berhasil menukar gaji pertama saya dengan selembar tiket menuju Phuket. Cieeee...

Rada gambling sih awalnya. Soalnya pesen tiket itu bulan Februari, sedangkan berangkatnya bulan Oktober. Saya masih belum tau gimana urusan kerjaan nantinya, belum lagi kondisi Thailand yang katanya sempet rusuh sampe ada travel warning segala, belum lagi urusan izin sama orang tua (yang saya agak ragu kalo dikasih tau sebelum pesen tiketnya mereka bakal ngizinin saya jalan) Tapi ya sudahlah, modal nekad aja! Mau traveling kok mikirnya ribet amat.. heheheheh..

Singkat kata singkat cerita, ada 4 orang yang berhasil terpedaya oleh bujuk rayu si maskapai merah itu, sebut saja dia Ade dan Egi (kontingen dari Jakarta) serta Beby dan Alip (kontingen dari Malaysia). Perlu diingat, nama-nama yang disebutkan ini bukan nama sebenarnya semua. Halah..

Nah, jadi…setelah dihitung-hitung, cari paket termurah tapi ciamik, didapatlah bahwa untuk tiket pesawat PP Jakarta-Phuket-Jakarta, ditambah biaya hotel bintang 3 untuk 4H3M, angka di kalkulator menunjukkan 1,7 juta rupiah saja per orang. Murah bukan??? Kannn….
okay, booked!

fly me, fly me..

Seiring berjalannya waktu..(tssaaahh) 6 bulan menunggu, kok rasanya lama banget ya. Setiap tgl 1 pasti counting down berapa bulan lagi berangkatnya. Tapi ketika tinggal beberapa hari lagi menuju 1 Oktober, kok rasanya deg-deg-an gitu.. hahaha.. Over excited mungkin. Ah tapi gak papa deh, toh saya berangkatnya berdua, di sana juga katanya informasi objek-objek wisata, termasuk peta dan transportasi cukup lengkap dan mudah didapat. Ya sudah, saya tenang-tenang saja. Semoga semuanya berjalan lancar.

 
Tapi ternyata sodara-sodara…. Ada aja kejadian diluar prediksi! Pagi hari, jam 10.30 WIB ketika saya sudah cek in di bandara, dan hanya 30 menit lagi menjelang boarding gate ditutup, temen saya si Egi itu belum juga datang. Dan setelah menjelaskan duduk perkaranya (yang mungkin demi kemaslahatan umat) via sms, dia memutuskan membatalkan rencananya.


Errrr….okay.. berarti saya sendirian.

Iya siih..Walopun nantinya di sana saya akan bergabung dengan kontingen dari Malaysia juga, tapi mereka baru akan berangkat malam harinya. Kemungkinan baru akan sampai di hotel tengah malam. Jadi kesimpulannya, dari Jakarta sampai Phuket saya sendiri, cari transport ke hotel sendiri, dan menikmati sisa waktu yang ada dari siang sampai tengah malam itu sendirian. Okay…. Saya nyengir.

Dibilang takut sih nggak. Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya hal-hal yang menakutkan seperti; gimana kalo nanti saya diculik? Gimana kalo detergent yang saya bawa dikira sabu-sabu? Gimana kalo saya nyasar? Gimana kalo saya dikerjain supir taksi? Sama sekali gak kepikiran.

Yang ada di otak saya justru…Hmm..Okay, Allah rupanya ngasih saya cara untuk latihan solo backpacking. Kalo harus bener-bener sengaja piknik sendirian selama 4 hari ke Negara lain gitu mungkin saya gak akan berani. Tapi kalau sudah begini keadaannya, mau gak mau saya harus tetap melangkah. Sendiri bukan hambatan. Toh semua ini terlalu mubazir kalau saya menyerah hanya pada rasa khawatir, ya kan? Baiklah… lanjuutttt.
 
memikirkan rencana Allah untuk saya.. *sok serius*


Jam 14.40 saya mendarat di Phuket International Airport, dan langsung disambut dengan ucapan selamat datang yang bunyinya kira-kira.... eeerrr...


anyone, read for me pleaseeee...

 Nah, berdasarkan referensi yang saya baca, begitu keluar dari airport akan ada airport bus yang menurut jadwal berangkat tiap jam dan singgah di terminal-terminal pantai utama. Tapi sayangnya saya gak nemu counter tempat beli tiket bisnya. Yang saya lihat justru counter tiket taksi dan minibus airport. Lihat-lihat list harga, menyesuaikan dengan tempat tujuan, dan mempertimbangkan bahwa saya cuma sendirian, maka saya memilih untuk naik minibus seharga 150 baht (45 ribu rupiah), jauh lebih irit dibandingkan naik taksi yang harganya bisa mencapai 500-600 baht. 1 minibus berisi 9 orang, tapi kita harus menunggu dulu sekitar 15 menit sampai terdaftar ada 9 orang yang ikut berangkat. Mobilnya bagus kok, dan kita akan langsung di antar sampai ke depan hotel.

yang putih itu mobilnya. beda tujuan beda juga harganya


Oh iya, saya menginap di Orchid Hotel Kalim Bay, Phuket. Tepat bersebrangan dengan pantainya. (perhatikan kalimat saya, bukan di depan pantai, tapi bersebrangan dengan pantai. Which is ada jalan raya yang memisahkan antara hotel dan pantainya. Beda banget sama foto yang saya liat di webnya. hehehehe) Kalim Bay itu sebenarnya bukan pantai yg utama. Turis-turis biasanya memilih menginap di sekitar Patong Beach yang lebih ramai dan happening, banyak hotel, resto, café, bar, toko-toko souvenir, dan macem-macem. Kalim gak seramai itu. Pantainya juga gak bisa buat berenang. Hanya bisa berjemur dan nyelup-nyelupin jempol aja di ombak pinggir pantainya. Tapi jarak antara Kalim-Patong gak jauh kok. Pantainya sebelahan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki 5 menit saja.



Kalim bay, Phuket

 Maka begitu sampai di hotel, saya istirahat sebentar lalu memutuskan untuk jalan-jalan sendirian di pinggir pantai. Sengaja saya keluar menjelang magrib, maksudnya sih biar bisa liat sunset. Tapi sampai jam 6 kurang, langitnya masih terang. Jadi saya memutuskan untuk makan kwetiau goreng yang ada di pinggir pantai sambil menikmati angin sore yang sepoi sepoi. Satu porsi kwetiau seharga 40 baht dan jus melon 30 baht (total Rp 21 ribu).

kwetiaunya ditaburi sama kacang tumbuk. jadi agak kriuk-kriuk gitu..

Iya, di pinggir pantainya (tepi jalan raya) memang banyak penjual makanan. Dan dijamin halal. Yang jual orang melayu muslim. Jualannya macem-macem, ada rujak, (sejenis) bakso, jus buah, mi goreng, sampe sate-satean (bakso ikan, sosis, atau cumi goreng yang ditususk seperti sate gitu). Tapi kios-kios ini baru ada di atas jam 3 sore, dan jam 9 malam sudah sepi atau bahkan sudah bubar semua.

  
<>
warung tenda pinggir pantai

Langit baru mulai menguning pada pukul 18.20 WJTS (Waktu Jam Tangan Saya). Tapi sayangnya sore itu agak mendung, dan matahari tertutup sama sekumpulan awan cumulus nimbus yang gendut-gendut. Tapi lumayan lah, masih dapet sedikit semburat warna merah untuk difoto-foto




Ketika langit mulai gelap, saya balik ke hotel. Mandi, sholat lalu tidur sebentar sambil menunggu kontingen Malaysia yang akan sampai tengah malam nanti. Dan rasanya saya perlu istirahat sambil mengumpulkan tenaga buat city tour besok yang pasti akan berlangsung seharian penuh.
Hmmm..akan kemana saya besok?
Nantikan lanjutan ceritanya yaa, hanya di laman ini!
Hehehehhee…

Wednesday, September 29, 2010

(pengennya) bike to work



Baiklaaahh... seperti yang sudah saya kasih bocoran pada postingan sebelumnya, saya belakangan ini punya keinginan untuk mencoba sepedahan ke kantor, atau kalo kata orang mah bike to work. Tapi masih ada beberapa hal yang mengganjal nih, dan rasanya saya perlu masukan dari yg baca disini. Bukaaan.. ini bukan perkara memilih sepeda yg fixie atau gear, atau jenis sepeda lainnya. Gak serumit itu sih, cuma masalah kecil sebenernya, tapi tetep aja bikin bingung.

Gini yaa..saya jabarin aja keadaannya gimana:

Pertama, dari segi lokasi. Dari kosan ke kantor saya sebetulnya dekat, kalo naik kopaja hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Biasanya justru lebih lama nunggunya daripada di atas kopaja nya. Hehehhe.. Tapi kalo jalan kaki sih lumayan juga. Paling gak bisa bikin aroma parfum yang semerbak itu jadi berubah asem karna keringetan. hehehe. Jadi kalo untuk urusan jarak tempuh, pake sepeda kayanya pas lah. Tapiiii jalur yang dilintasi lumayan padat kendaraan. Ada jalur lain sih, tapi jalannya tidak terlalu lebar, melewati pasar dan termasuk padat juga di pagi hari.

Perkara kedua adalah, saya bekerja sebagai dosen, yang mana busana saya harus formal. Selama ini aja saya mengakali dengan pake sepatu flat dulu dari kos-kosan (ingat, saya naik kopaja) dan baru setelah sampe kantor ganti pake high heels 7cm. Baju? Paling tidak, kemeja. Kadang malah saya harus pakai blazer atau long shirt gitu. Nah, kalo pake baju kerja begini, kebayang dong, paling tidak harus ada polesan bedak sedikit, maskara biar mata kinclong, dan.. bye bye dulu sama ransel buluk saya itu. Hehehe... Tasnya kudu tas "cewek". Walopun kadang saya bawa laptop atau perkakas yang rada banyak, saya biasanya memilih untuk pakai tas model postman (selempangan) atau bawa jinjingan tambahan.

Nah, masalah ini nih yang merepotkan!

Kalo saya liat orang-orang yang sudah mencoba sepedahan ke kantor yaa, biasanya dari rumah mereka pake outfit yang sporty dulu. Baju kaos, sneakers, tas ransel, lengkap dengan helm dan protektor melekat di badan. Baru setelah sampe kantor, bebersihan badan (malah ada juga lho yg baru mandi di kantor :P ) dan ganti busana formal. Ketika mau pulang ke rumah, ganti lagi pake kostum sepedahan.

Nah, sekarang.. coba aplikasikan cara itu ke kondisi yang sudah saya jabarkan. Rasanya kok agak merepotkan yaa...

Pertama, dengan jarak sepedahan yg gak jauh-jauh amat itu kok rasanya ribet amat yaa harus bawa baju ganti dan peralatan lenong (baca: make-up) saya. Belum lagi bawa helm plus protektornya plus gemboknya plus botol minumnya plus anduk kecil buat lap keringetnya....hahaha. Itu udah satu ransel aja. Trus tas kerja (kempit) saya gimana? Kalo bawa laptop juga gimana? bawa 3 tas dong?? errrr... kok jadi kaya orang mau mudik ya??

Tapi kalo gak bawa perkakas gitu, masa saya sepedahan pake blazer, tas kempit dan sepatu cantik?? Gak matching dong... Belum lagi keringetan segala, eeeiiiyww.. Gak lucu ah ngajar pagi tapi tampilan udah kucel gitu.

Jadi gimana dong.. Bawa ganti, repot. Gak bawa ganti, kucel.  Aaahhh...bingung nih!!

Saran doong...



gambar diambil dari sini