Saturday, June 12, 2010

Racun dunia

Tadi malam saya abis dateng ke acara nonton bareng dari sebuah klub film  yang saya ikutin, klubfilm curipandang namanya. Klub film ini selalu bikin acara nonton bareng yang seru. Mulai dari mendatangkan sutradara ternama untuk ngobrol-ngobrol santai, sampe membahas topik-topik yang ringan tapi asik. Nah, tadi malam temanya adalah traveling, since ini udah masuk bulan Juni yang katanya adalah masa-masa liburan (sayangnya ini cuma untuk anak-anak sekolahan, saya mah tetep jadi kuli tiap hari. Huhuhu.. )

Oke, film yang diputer tadi malam judulnya A Map for Saturday. Kenapa saturday? Karena... liburan berarti leisure time, berarti jalan-jalan atau traveling. Nah, tiap kita lagi traveling, selalu berasa kalo itu tuh lagi hari Sabtu trus nggak sih..? It feels like, when you wake up in the morning, you realize that you don't have to do something because it's Saturday. It's weekend! Then you walking around, playing around all day long til you drop. Then you feel so tired at night and then you sleep. And when you wake up on the next morning, you'll think that, heey... it's still Saturday!

Yup on a trip around the world, every day feels like Saturday.
Hahahhaa...menyenangkan bukan?



A Map for Saturday adalah film dokumenter yang menceritakan seorang cowok amrik bernama Brook yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan ngabisin tabungannya setahun terakhir untuk traveling selama setahun. Singkat kata singkat cerita, dia telah menjalani 50 minggu dengan mengunjungi 26 negara (fhew..!), dengan menghabiskan biaya sekitar US$20.000 (ini tahun 2005 ya).Dan gak cuma tentang dia aja, di sini juga ada beberapa backpacker yang ikutan berbagi cerita tentang perjalanan mereka. Kenapa kebanyakan backpacker Amrik ngakunya dari Kanada? Gimana cara mereka cuci baju dan tidur berjamaah di hostel murah? Fall in love di saat travelling? hmmm... ;)

Sumpaaah...nonton filmnya bikin saya iri sampe ngeces-ngeces! Dan satu kata, film ini bener-bener RACUN buat saya!

Gak cuma filmnya aja, Brook juga mencatatkan perjalanan plus foto-foto semuanya di blog pribadinya. Monggo dicek di sini. Dia juga dengan sangat baik ngasih beberapa tips untuk traveling dan berbagi cerita tentang beberapa negara yang pernah dia kunjungi.

Nah, untuk kamu yang hobi piknik dan punya cita-cita mulia untuk keliling dunia, film ini recommended banget deh. Walaupun agak susah nyari filmnya, tapi layak tonton dan layak koleksi kok. Walaupun sekarang banyak juga tayangan di tv yang nyeritain tentang jalan-jalan atau backpacking, tapi percayalah, banyak hal yang bisa kita liat dari pengalamannya si Brook yang gak akan kita temui di film/acara tv yang lain.

Dan dua kata dari saya, selamat keracunan!
hehehe...

Monday, May 31, 2010

new kid in my phone


Welcome!

Now that your phone is equipped with the world's leading mobile travel assistant service, we bet you want to know all about how to get the most out of it.
And if you're a real frequent traveler, treat yourself to Gold status for  a 20% rebate off a yearly Gold subscription, which will give you access to:

* Alerts for flight delays, cancellations and diversions
* Real-time Flight Status information for over 350 airlines
* Comprehensive Flight Schedules for over 800 airlines
And more...


(Haiish...lagak seperti traveler yang sibuk kesana kemari)

dan saya menangis, sodara-sodari...

Awal bulan yang lalu akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama gak baca atau beli buku selain text book.. Toto-chan's Children judulnya.

Familiar sama nama Toto-chan? Ya, dia adalah si gadis kecil nan lincah yang duduk di tepi jendela itu. Dan buku yang baru saja saya beli ini adalah lanjutan kisah Toto-chan itu sendiri. Tapi di sini dia bukan lagi anak kecil yang asik sama dunianya sendiri. Di sini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa, aktris populer di Tokyo, yang kemudian diangkat menjadi duta kemanusiaan untuk UNICEF dan mengunjungi daerah-daerah konflik di beberapa benua.

Saya, sejak dulu sudah jatuh cinta dengan Toto-chan kecil. Imajinasinya, kecerdasannya, keluguannya dan semangatnya yang gak ada habisnya. Di samping itu, sejak dulu juga (sebelum baca buku ke-2 ini) saya bermimpi, suatu saat saya ingin, ingin sekali, menjadi volunteer, atau bahkan kalau Tuhan mengizinkan, menjadi duta UNICEF. Maka menemukan buku tentang si Toto-chan yang mencatat perjalanannya selama menjadi duta UNICEF, saya nggak pikir panjang lagi untuk membeli bukunya.

Tapi, demi Tuhan, jangan sekali-kali berfikir bahwa buku ini akan penuh tawa seperti kisah Toto-chan kecil. Jangan.

Saya, ketika membuka lembar-lembar pertamanya saja sudah berkali-kali terkesiap dan menahan nafas mendapati begitu banyaknya fakta yang membuat miris membacanya.

Tentang anak-anak pengungsi di afrika yang ternyata tidak pernah sekalipun melihat gajah dan jerapah. Tentang anak-anak korban perang yang selalu menahan sakit dalam diam. Tentang bocah Mozambik yang terpaksa minum air berlumpur. Tentang bocah kecil India yang sekarat, dan nafasnya hanya bergantung pada tangan si ibu yang memompakan udara.

Dan saya menangis...
Ya, pertama kalinya sebuah buku bisa membuat saya menangis.

Saya bahkan bukan hanya menangis, tetapi juga menahan muntah ketika sampai di bab lima di mana dikisahkan tentang bagaimana kejamnya pembantaian anak-anak di Kamboja.

Pada bab itu, saya hampir-hampir memutuskan untuk berhenti membaca bukunya. Sumpah, saya nggak sanggup melanjutkan buku itu. Sebulan sejak buku itu saya beli, hingga kini saya belum juga menghabiskan separuhnya. Kegetiran yang ada di dalamnya kadang membuat saya terpaksa berhenti membaca dan menginggalkannya selama beberapa hari.

Saya nggak sanggup membayangkan kepedihan macam apa yang dirasakan "anak-anak Toto-chan" itu. Saya bahkan merasa bersalah ketika membaca buku ini sambil ngemil keripik kentang dan minum ice lemon tea :(

Oh ya, satu hal lagi.
Kalau kamu adalah seseorang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1978-1990an, di mana kamu bisa minum susu hingga kegemukan, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, di tengah-tengah keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, maka BERSYUKURLAH!
Karena pada saat yang sama ketka kamu minum susu atau merengek minta mainan itu, ada anak-anak lain di belahan dunia lain yang tengah meregang nyawa dalam kebisuan.

Maka bersyukurlah, teman. Bersyukurlah.