Menyebalkan. Dan yaah..itu tadi, bikin panas kuping. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, belakangan ini saya sedang dibombardir dengan pertanyaan kedua.Uuurrgh...
Untungnya sih bukan sama orang tua, tapi sama orang-orang sekitar yang kadang jauh lebih rese' dan gak memikirkan intonasi serta mimik wajah saat bertanya. Orang tua saya sih termasuk moderat dan anteng-anteng aja sama urusan beginian. Walopun saya yakin, dalam hati mereka juga pasti pertanyaan-pertanyaan itu sudah berkali-kali di rewind.

Jujur, bukan saya gak kepengen. Bukan juga karna saya gak laku (jiaah..sombong! haha). Tapi saya takut. Iya, takut. Takut sama sesuatu bernama komitmen. Ika Natassa --penulis buku A Verry Yuppy Wedding dan Divortiare (saya pengen banget beli dua buku ini. Ada yg mau beliin? hehe..) menulis begini di bukunya: "Commitment is a funny thing, you know? It's almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep."
Dan saya pikir, she's damn so right! Gak semudah itu buat saya mengikatkan diri pada sebuah komitmen (let say, marriage). Ada banyak hal yang pelu dipikirkan, dipertimbangkan masak-masak, bukan hanya hal-hal prinsipil, tapi juga hingga ke hal-hal kecil.
Mungkin memang sayanya aja yang paranoid. Tapi saya gak akan mau masuk ke suatu keadaan yang saya gak yakin bisa saya jalani dengan baik. Iya sih, kata orang itu adalah proses yang hanya perlu dijalani. Tapi toh kita kan juga perlu persiapan, dan yang paling penting, KEYAKINAN. Nah, yang terakhir ini yang belum saya miliki. Memilih dan mendapatkan orang yang tepat aja gak mudah. Belum lagi untuk menjalaninya. Juga pertanyaan-pertanyaan yang terus saja menghantui pikiran saya. Yakin pasangan bakal setia? Yakin bisa menghidupi keluarga? Yakin bisa jadi istri yang baik? Yakin bisa menerima segala perbedaan? Yakin bisa berkompromi? aaah....things like that.
Saya dulu juga pernah baca di sebuah majalah wanita, katanya 9 dari 10 wanita menerima saat pertama kali dilamar. Dan biasanya ini disebabkan oleh bayangan romantisme pernikahan. Walopun gak yakin-yakin amat sama lelaki yang berkata 'will you?' di depannya, tetapi bayangan punya keluarga mungil, rumah asri berumput hijau, anak-anak yang lucu, bangun pagi dan membuatkan sarapan, bisa membuat wanita memutuskan untuk menerimanya. Nah, begitu menghadapi realita pernikahan yang ternyata tidak seindah bayangannya, baru deh nyesel, kecewa, depresi.
Naah..Saya gak mau impulsif begitu. Saya mau memutuskan untuk menikah karena saya yakin memang inilah saatnya dan inilah orangnya. Yakin saya bisa bertahan menghadapinya. Jadi, buat apa saya memaksakan diri, buru-buru menikah hanya karena dipusingkan dengan pertanyaan yang terus-terusan berdengung di telinga saya. Betul gak?
Jadi, santai aja lah... :)
Dan buat para single ladies diluar sana yang menghadapi pertanyaan serupa, tenang aja...
You are not alone :)