Friday, June 19, 2009

nick and norah's infinite playlist


baru aja selesai nonton film ini
dan,
...
...
aah... speechless!
bagus banget,
awesome!
I should re-arrange my top five best movies now

Tuesday, June 09, 2009

candu berlumur dosa

Saya lagi ketagihan makan wafer coklat ini:

dan setelah menghabiskan entah berapa bungkus, saya baru membaca tulisan
di bagian depannya

"Chunky Hazelnuts Creme in SINFULLY Rich Chocolate-Filled Wafer"

oh Tuhan...
entah sudah berapa banyak dosa yang saya lakukan
hanya dengan memakan coklat ini

Sunday, June 07, 2009

watch and hear

Belakangan ini saya lagi menggila nonton film. Dalam dua bulan terakhir ini aja, entah udah berapa puluh film yang saya lahap. Normalnya sih sehari bisa nonton 1-3 film. Mulai dari nonton yang pake tiket di bioskop, hasil copy punya temen-temen, pinjem DVD sana-sini, sampai mengunggahnya sendiri. Semua genre saya nikmati, film komersil atau film festival, film anak kecil sampe film orang besar, bahkan sampai film yang pemain dan sutradaranya pun saya gak kenal, tetap aja saya nikmati.

Nah semalam, saya nonton lagi. Sebuah film drama musikal berjudul High Fidelity (2000). Entah ada kekuatan magis apa dari film ini yang bisa bikin saya langsung menekan mouse untuk mendownloadnya tanpa tau ini film tentang apa. Tapi nyatanya, saya begitu tabah menunggu progressnya hingga komplit, meskipun memakan waktu hingga berhari-hari. Dan sekarang, setelah nonton filmnya seperti apa, saya bisa bilang bahwa penantian berhari-hari itu terbayar lunas. Penasaran? Hmm....

Saya ulangi sekali lagi, ini adalah film drama musikal. Tapi catat, bukan film semacam Accross the Universe atau Mama Mia! yang setiap 5 menit ada adegan nyanyi-nyanyi, bukan sama sekali! Film ini bercerita tentang Rob (dimainkan dengan apik oleh John Cusack) yang mempunyai toko musik yang menjual album rekaman dengan koleksinya yang bukan main. Pada setiap keping rekaman itu dia menyimpan cerita dan meletakkan nyawa nya sendiri untuk menjaga.

Sudah nonton film Garasi? Nah, kalau bisa mengingat dengan baik, di film itu ada Arie Dagienkz dan Desta Club Eighties yang membuka toko musik semacam ini dengan label D’Lawas. Toko musik yang bisa sombong menolak pembelinya dengan alasan pengetahuan musiknya masih ‘cetek’ atau seleranya payah! Hahaha.... And that’s the way it is in this movie. Sungguh, penikmat musik yang idealis.

Musik di film ini enak banget untuk dinikmati. Yaah, walaupun referensi musik saya masih jauh dari keren, tapi paling tidak saya masih nyambung ketika dia menyebut nama Eagle Eye Cherry, Nirvana atau Green Day, atau ketika kuping saya menangkap nada-nada milik The Prodigy atau The Queen. Hehehe.. Selebihnya, saya hanya menempatkan diri sebagai pendengar yang setia..

Tapi tenang saja, cerita di film ini gak melulu tentang musik kok. Di sini si tokoh utamanya, Rob, juga menceritakan tentang pengalaman kisah cintanya dengan membuat list the top five breakups. Cerita tentang kenapa selama ini dia sial banget sampai ditinggal berkali-kali oleh pacarnya. Termasuk pacarnya yang terakhir yang bisa bikin hatinya jadi retak seribu.

Menurut saya, di sini Rob menjadi narator yang asik untuk kisahnya sendiri. Kita bisa merasakan seolah-olah dia sedang curhat sama kita langsung, dengan pikiran-pikiran yang seperti tiba-tiba aja muncul di benaknya dan gak sabar untuk langsung diceritain saat itu juga, hingga membuat kita berfikir dan menyetujui hal yang sama.


Di film ini, bagusnya Rob nggak mencitrakan diri sebagai seorang pria dengan kesetiaan yang teguh, atau kekasih yang sempurna. Dia tak lain hanya seorang cowok biasa yang punya ego, yang gak mau kalah dibandingin cowok lain, yang masih bisa tergoda perempuan lain selain pacarnya, tapi juga berusaha mati-matian mendapatkan gadis yang benar-benar dia inginkan. Ada satu petikan yang saya suka banget di film ini. Bunyinya begini: “...some people, as far as your sense are concerned, just feel like home.”

Hmm.. sweet, isn’t it?

Nah, yang paling saya suka dari film ini adalah, dia (dan music director untuk film ini, tentu saja) selalu bisa mendapatkan soundtrack yang pas untuk setiap kisah yang dia ceritakan. Setiap scene ada musik latarnya. Awalnya saya sempat agak bingung, mau fokus ngikutin kisah cintanya, atau ngikutin kisah dibalik pilihan-pilihan musiknya ya? Karna dua-duanya sama-sama punya kekuatan tersendiri untuk dinikmati. Tetapi yang saya dapat, inti dari semuanya adalah, bahwa musik adalah hidupnya. Dan apapun yang dialaminya, termasuk kisah cinta dan segala peristiwa yang setiap hari yang dijalani, selalu berputar dengan musik sebagai porosnya. Musik adalah jiwanya. Musik adalah nafasnya. Keren kan?!

Dan sebagai pelengkap yang manis, di bagian terakhir Sonic Death Monkey menutup film ini dengan musik yang ciamik! Benar-benar diluar dugaan..

Nah, kalau Anda penyuka musik, rasanya perlu deh menguji pengetahuan musik Anda dengan film ini. Tonton filmnya dan nikmati musiknya.. :)