Tuesday, December 23, 2008

as I know,
kenyamanan itu suka menipu

dan bodohnya,
kali ini gua yang tertipu

Monday, December 08, 2008

Sehari Semalam

Dalam sehari semalam saya empat kali naik angkutan umum, satu kali naik pesawat dan dua kali naik kereta. Selama itu saya belajar bagaimana setiap detik begitu penting, belajar bersabar dan belajar tentang pentingnya bertoleransi. belajar "menyimak" sekitar. belajar meunggu dengan setia.

Dalam sehari semalam itu saya juga sempat menikmati pameran lukisan, mengenal kembali wangsa syailendra, melihat puncak borobudur, menikmati musik jazz, mengecap tiramisu dan diskusi panjang lebar. Saya bahkan gak hanya sempat tertidur dan kedinginan di kursi nan empuk, tapi juga tidur bersisian dengan sarang kecoa. iya, SARANG, tempat keluarnya kecoa dengan berbagai ukuran, dari yang gede sampe yang keciiil.. tapi saya masih tau itu kecoa!

Di hari yang sama saya juga sempat belajar betapa ego dan semosi itu bagaikan gelembung dengan jarum pentul. betapa kesetiaan begitu pentingnya untuk dijaga. betapa menjadi mandiri itu begitu mahal. betapa sahabat itu begitu melegakan.

Saya juga sempat menjadi pendengar setia obrolan keluarga yang gak ada habis-habisnya kecuali terhenti ketika mereka tertidur. mulai dari ada ular di depan kamar, harga dipan yang cuma 85 ribu, rel yang bercabang dua, pacarnya si kakak, hingga apakah kereta ini masih berjalan dengan tenaga batu bara.

Di malam yang sama saya juga berteman dengan "sebungkus kucing" yang ketumpahan kuah pop mie karna yang terlalu banyak mengajukan pertanyaan dan topik-topik aneh. Haha...tapi kucing ini menjadi pelarian saya ketika menyadari betapa susahnya memulai percakapan dengan orang di sebelah, walaupun saya anak komunikasi.


Semuanya dalam sehari semalam yang saya lewatkan ketika pulang.
Sehari semalam yang membuat saya merasa tambah kaya..

Tuesday, December 02, 2008

No need a pain killer

sakit itu candu,

setidaknya buat gua.
iya, gua mulai kecanduan rasa sakit.
rasa sakit yang bukan secara fisik, tapi mental.
sakit yang bisa bikin gua sesak nafas, yang bikin gua pengen nangis,
pengen marah, pengen ngeluarin sumpah serapah
sakit yang gua sendiri gak tau gimana cara menjelaskannya
tapi membuat gua ketagihan

ini berawal dari setiap luka kecil di hati yang bisa gua sembuhkan sendiri. self healing, maksudnya. setiap luka itu sembuh, gua selalu merasa lebih baik. gua selalu berfikir "okay, I can handle it, let's see what's next"

lama kelamaan, rasa sakit seperti sudah menjadi sahabat karib. tapi gua masih bisa tahan. masih bisa ngelewatinnya dengan kepala tegak. dan masih bisa sekali lagi bilang "oh, ternyata gua bisa"

terus dan terus begitu.. sakit sekali, lewat. dua kali, lewat.
levelnya naik lagi, lewat. tambah sakit lagi, lewat.
entah sekarang sudah sampe level berapa, gua gak tau
yang gua baru sadari, gua sampe suatu titik dimana
gua merasa terlalu menantang diri gua sendiri.
mencari gara-gara, membakar diri sendiri,
loncat dari ketinggian yang lebih dari biasanya,
tenggelam lebih dalam, menahan nafas lebih lama
hanya untuk melihat, untuk meyakini diri gua sendiri,

apakah gua masih sanggup
apakah gua masih bisa bangun dari kubangan sambil tersenyum
apakah gua masih berdiri tegak dan tidak menjadi cengeng

gua tau ini bahaya.
tapi setelah sakit itu lewat, gua selalu merasa bereinkarnasi.

ternyata gua kecanduan..


yes, you can call me psycho now