Setiap sujud menjadi begitu mendalam, setiap ayat terasa lebih bermakna. Dan cucuran air mata rasanya takkan pernah cukup mencuci diri yang begitu kerdil dan penuh dosa. Kita hanya sosok lemah, yang bergabung dengan jutaan umat lainnya, dan bersujud penuh syukur dan menghamba. Hitam-putih-besar-kecil-Cina-Turki-India-Afrika toh semuanya sama. Hanya debu-debu kecil di padang pasir.
Lebih dari itu, rasanya tak ada yang dapat menandingi perasaan takjub dan haru ketika melihat kotak hitam segi empat itu: Ka'bah. Entah bagaimana harus menjelaskan perasaan itu, segalanya hanya membuat kita semakin merasa tidak ada apa-apanya di mata Sang Khalik. Dalam tiap-tiap langkah yang terucap hanya doa. Dalam tiap-tiap putaran tawaf yang di agung-agungkan hanyalah Dia. Tiap kali menatap pintunya, bahkan mengecupnya dari kejauhan, ada keharuan yang luar biasa. Segala dosa seolah berputar di depan mata. Akankah aku mendapatkan ampunan, akankah aku dapat merasakan nikmat surga-Nya.
Dan ketika semuanya harus ditinggalkan, perasaan rela itu tak kan pernah muncul. Tak kan pernah..Ya Allah kumohon.. panggil aku lagi. Izinkan aku lagi berkunjung ke rumah-Mu, menziarahi Nabi-Mu, dan mengirimkan segala doaku pada sejuta malaikat-Mu. Karna aku akan selalu rindu..